Rabu, 21 Agustus 2013

Terlena dalam pujian


Siapa yang tak suka di puji? “Kamu Cantik, Pintar, Hebat, Imut, Keren, Kece, Bijaksana, Lemah lembut, dan sebagainya”.  Pujian membuat senyuman tersungging di bibir, hati merasa senang, dan tubuh menjadi riang. Itu efek pertama dari sebuah pujian.

Tapi tahukah kawan? Di sadari atau tidak, seringkali kita terjebak dan terlena  dalam pujian. Membuat diri seolah puas, seolah paling hebat, tak ada lagi yang perlu diperbaiki, dan tak ada lagi yang perlu diperbuat. Padahal, banyak orang di luar sana yang sedang berlomba-lomba memperbaiki dan memperhebat diri.
Alhasil pujian yang dulu kita terima tak lagi terdengar di telinga, tak lagi tersimpan di hasil, dan tak lagi terfikirkan di otak. Juga, hal-hal yang telah kita raih tak lagi di pandang baik, karena ternyata kita terlalu lama terjebak dan terlena dalam pujian-pujian yg kita dapatkan.

Sebaliknya dengan cacian (red:teguran). Ketika seseorang mendapatkan cacian, orang tersebut akan merasa down, merasa sia-sia dan tak berguna. Tapi kawan, seringkali cacian menjadi suatu motivasi untuk membuktikan kepada dunia bahwa kita BISA LEBIH BAIK dari orang yang mencaci kita. Saat itulah diri kita berbuat lebih banyak dari biasanya, berfikir lebih cerdas dari biasanya, bekerja lebih keras dari biasanya.

Ada cantik, ada jelek. Ada kasar, ada halus. Ada baik, ada buruk. Ada pujian, dan ada juga cacian. Allah telah menciptakannya berpasang-pasangan, saling melengkapi satu sama lain.
Tegur aku di saat salah. Karena aku bukanlah makhluk yang sempurna. Namun, aku mempunyai keinginan untuk menjadi lebih baik. Aku mempunyai mimpi yang ingin ku raih.

Bojonggede, 21 Agustus 2013. Pukul: 21.13

Untukmu yang sedang terlena dan terjebak dalam pujian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar